Juli 01, 2009

Jadilah Pendongeng Yang Ulung untuk Anak

Apakah Anda termasuk orangtua yang bermasalah dalam hal membacakan cerita untuk sang buah hati? Bila ya, tenang, Anda tidak sendiri. Masalah ini termasuk klasik bagi orangtua, terutama orangtua bekerja. Hari-hari panjang di kantor acap dituding sebagai biang keladi orangtua kesulitan membacakan cerita secara menyenangkan (fun) bagi sang putra-putri. Untuk itu, Anda membutuhkan tips. Tips apakah itu?
Ternyata sederhana saja. Usahakan untuk ikut menyenangi buku cerita yang akan dibacakan. "Orangtua yang merasa nyaman dan senang dengan buku cerita yang akan dibacakannya, otomatis akan menceritakannya dengan cara yang fun. Tentu saja hal ini akan membuat mendengarkan cerita jadi aktivitas yang menyenangkan untuk si kecil."Demikian pendapat Octaviani I. Ranakusuma, M.Psi, psikolog RS Thamrin International & dosen Fakultas Psikologi Universitas YARSI dalam talkshow berjudul Mendidik Melalui Cerita yang diselenggarakan Penerbit Erlangga, Selasa (2/6) pagi.Talkshow yang merupakan bagian dari kegiatan Erlangga Fair yang berlangsung 1-7 Juni 2009 di Pejaten Village lantai dasar ini, membahas bagaimana sebaiknya orangtua mendidik anak melalui cerita. Moza Pramita, yang mendampingi Octaviani sebagai narasumber, menceritakan caranya dalam menanamkan kecintaan akan buku kepada buah hatinya, Malik (5) dan Akma (2,5).Pada waktu Akma berulang tahun, misalnya, penyiar Cosmopolitan FM ini mengharuskan para undangan untuk memberikan hadiah berupa buku dan hanya buku. "Cara ini mungkin terlihat berlebihan bagi sebagian orang, tapi terkadang, untuk menanamkan kecintaan buku pada anak-anak, kita memang dituntut untuk bersikap tegas dan punya prinsip."Tak hanya pada ulang tahun anaknya, Moza juga berprinisip untuk selalu memberikan buku sebagai hadiah bagi teman-teman anaknya yang berulang tahun. "Seperti tetangga depan rumah saya, orang Jerman, yang anaknya berulang tahun, saya belikan dia satu set cerita klasik Indonesia dalam Bahasa Inggris," ujar wanita energik ini. "Soalnya hadiah berupa buku itu sebenarnya investasi. Hari ini kita kasih, 10 tahun kemudian buku itu masih bisa digunakan. Tidak seperti mainannya," tambahnya lagi.Lalu, kapan sebaiknya kita mulai membacakan cerita untuk si kecil?Menurut Octaviani, sebuah penelitian mengatakan bahwa janin dalam kandungan pada trisemester pertama sudah bisa mengenali suara ibunya. "Nah, pada waktu itu, banyak-banyaklah bercerita padanya. Sering-seringlah memperdengarkan suara Anda padanya," ujar Octa.Octa tidak melulu mengartikan story telling sebagai membacakan cerita dari buku. Menceritakan apa yang dialami si ibu seharian itu pun sudah termasuk kategori story telling. "Bayi berumur 0-12 tahun biasanya masih tertarik pada intonasi suara, bukan pada konten cerita," tambahnya. Karena itu, usahakanlah untuk bercerita dengan intonasi suara yang menarik demi merangsang daya imajinasi si kecil.Banyak orangtua masih memandang bedtime story telling (bercerita sebelum tidur) sebagai beban, dan itulah salah satu kesalahan terbesar orangtua dalam mendidik anak. Menurut Octaviani, tak perlu menjadikan story telling sebagai beban karena itu akan menjadikan orangtua tidak nyaman dalam menjalani profesi pendongeng bagi anak-anaknya. Orangtua, mau tidak mau, adalah a natural born story teller. Karena tidak bisa lepas dari fitrah ini, maka jalankanlah profesi alami ini dengan serius."Banyak orangtua menganggap membacakan cerita harus sebelum tidur, padahal tidak harus begitu. Kalau waktu sebelum tidur dianggap tidak tepat karena anak sudah mengantuk dan orangtua sudah terlalu capek untuk membacakan cerita, cari waktu lain. Kapan pun itu, usahakan Anda sebagai orangtua merasa nyaman untuk melakukannya."Lebih jauh, Octaviani menambahkan kalau bercerita tidak harus dari buku (read a story), atau menceritakan kembali isi buku (story telling). "Menceritakan pengalaman Anda di kantor pun sudah merupakan bercerita. Jangan lupa tambahkan efek berupa intonasi suara untuk membuat cerita kantor Anda menarik untuk si kecil."Soal intonasi suara juga mendapat perhatian dari Moza. Menurutnya, cara bercerita orangtua akan berimbas pada cara si anak dalam menyampaikan sesuatu kepada teman-temannya. "Saya punya beberapa teman yang kalau bercerita ke anaknya flat (datar) saja, tidak ekspresif. Nah, ketika anaknya menceritakannya kembali ke teman-temannya, gaya flat-nya juga terbawa."Lalu, apa pentingnya story telling bagi perkembangan si kecil? Octaviani dan Moza kompak menjawab penting."Cerita adalah medium yang paling efektif untuk menyampaikan pelajaran-pelajaran hidup yang positif. Mulai dari keberanian, kecerdikan, setia kawan, kasih sayang, hormat pada orangtua, dan lain-lain. Hal ini penting untuk membentuk moral si anak nantinya," ujar Octaviani.Lalu, tunggu apa lagi, parents? Mulailah menjadi pendongeng yang ulung bagi si kecil.Teks: Putri Dewi M.R.Gambar: Penerbit ErlanggaSumber: CBN

3 komentar:

Maen Game Dapet Uang beneran

Play Strategy Game on MarketGlory

Related Post