Januari 17, 2009

Tips Mencegah Cultural Shock



Gegar budaya (cultural shock) jarang dialami seseorang ketika hanya berlibur sesaat ke suatu tempat baru. Namun begitu bos memanggil Anda ke ruangannya dan berkata, "Hi Ron, kami amat senang dengan kinerjamu. Kami ingin kamu mengepalai kantor operasi kita di Hong Kong!" Anda harus segera berpikir tentang beragam implikasi yang mungkin terjadi dan bagaimana Anda dapat menghindar dari masalah yang mungkin timbul. Sesungguhnya, tidak ada hal ini yang begitu mengerikan namun tetap saja bisa muncul masalah serius jika Anda tidak mengambil langkah pencegahan.


Gegar budaya jelas merupakan kondisi serius yang memerlukan perhatian khusus. Ada orang yang menderita kurang tidur, mood yang berubah-ubah dan depresi karena mengalami gegar budaya. Travelling ke tempat baru dengan kebiasaan dan tradisi yang berbeda bisa mengakibatkan trauma tersendiri. Riset kecil sebelum berangkat akan sangat membantu, namun hal yang terpenting adalah berangkat dengan pikiran dan hati yang terbuka. Banyak orang menuju tempat baru tanpa melakukan riset dan berharap segalanya akan berjalan lancar, wah, jangan harap. Amat penting untuk memahami budaya, agama, dan orang-orang di tempat ke mana Anda akan pergi.

Buku-buku mengenai cultural shock adalah cara yang bagus untuk memulai riset, tapi ada hal-hal yang tidak akan sepenuhnya Anda paham sampai Anda berada di tempat baru tersebut dan bergabung bersama penduduk lokal.

Jika Anda akan menjadi ekspatrait di Thailand, misalnya, buku Culture Shock Thailand sebaiknya Anda baca sebelum berangkat. Orang-orang Thailand merupakan salah satu kelompok orang yang paling ramah di dunia. Buku ini menjelaskan banyak hal tentang budaya dan tradisi Thailand, serta menjelaskan bagaimana orang Thailand tersenyum sebagai cara keluar dari situasi yang memalukan dan bagaimana mereka memandang rendah orang yang tidak melakukan hal yang sama. Buku ini memberikan contoh-contoh untuk memastikan pembaca mengerti. Salah satu contohnya adalah jika Anda berjalan di jalanan Thailand dan seseorang tanpa sengaja melemparkan air kotor dari pintu ke arah Anda, Anda harus tersenyum. Senyuman itu menunjukkan Anda memberi maaf, dan ini akan membawa kebaikan, orang itu besar kemungkinan akan keluar untuk membantu Anda membersihkan diri. Bayangkan sekiranya kejadian itu terjadi di Jakarta! Jauhi konfrontasi! Ini adalah salah satu dari beberapa aspek budaya Thailand.

Jika Anda akan menjadi ekspatriat di sebuah tempat yang sangat asing atau berbeda kulturnya dengan tempat asal Anda, lakukan lebih banyak riset. Anda dapat menggunakan internet. Anda dapat melihat foto-foto dari banyak tempat di dunia dan bahkan membaca review tentang restoran, hotel dan bar tanpa harus meninggalkan kantor. Anda juga disarankan untuk menjauh dari ekspatriat lain, terutama sebelum Anda berangkat dan beberapa saat setelah Anda tiba di tempat tujuan. Banyak ekspatriat memberi pandangan negatif tentang suatu negara, walaupun mereka terus tinggal di sana. Anda tidak memerlukan hal-hal semacam ini setelah terbang melintasi setengah bola dunia. Pergilah dengan pikiran terbuka dan buatlah penilaian Anda sendiri tentang tempat tersebut setelah Anda memahaminya.

Salah satu penyebab utama cultural shock adalah masalah bahasa. Akan sangat membantu bila Anda berlajar bahasa lokal sebelum berangkat. Ambilah kursus; Jika Anda belajar bahasa Thailand makanlah di restoran Thailand dan coba praktekkan bahasa yang telah dipelajari. Langkah sederhana ini akan membuat hidup lebih sederhana dan orang seketika akan menghormati Anda begitu tiba di negara tujuan, juga membuka pintu-pintu kesempatan. Jika Anda menunjukkan ketertarikan pada bahasa dan budaya orang lain mereka pun akan menunjukkan ketertarikan pada Anda.

Jika Anda direlokasikan oleh perusahaan, coba cari tahu sedikit kondisi biaya hidup di negara tersebut dan paket remunerasi yang ditawarkan pada Anda. Akankah mereka menyediakan akomodasi hotel atau Anda akan langsung disediakan apartemen atau rumah? Akankah Anda diberikan tunjangan perumahan untuk memilih sendiri akomodasi? Adakah disediakan PRT (Pekerja Rumah Tangga)? Bagaimana dengan mobil? Berapa kali Anda difasilitasi untuk perjalanan pulang ke negara asal? Kelas ekonomi atau kelas bisnis? Bagaimana dengan hak-hak yang diberikan pada keluarga Anda: istri/suami dan anak-anak? Akankah perusahaan membayar biaya repatriasi karena sakit, atau ketika Anda tidak lagi bekerja? Apakah mereka menawarkan asuransi yang cocok di negara tujuan Anda?

Sekarang, Anda siap untuk berangkat. Saat Anda berangkat, penting untuk merasa nyaman. Begitu tiba di tujuan, rasakan tempat itu dengan indera Anda, bau-bauan yang tercium, segala bunyi-bunyian yang ada. Jalan-jalanlah satu sampai dua hari untuk mendapatkan pengalaman mistis dari tanah baru yang telah Anda temukan. Setelah Anda mulai merasa sedikit seperti di rumah, bergabunglah dalam sebuah klub, dan bertemanlah dengan orang-orang di luar jaringan kerja Anda, coba bertemu dan berteman dengan sebanyak mungkin orang lokal. Dengan demikian Anda akan memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai tempat baru Anda, dan sangat mungkin Anda akan lebih menghargai perbedaan budaya yang muncul. Pada dasarnya cultural shock muncul dari kurangnya pemahaman, kegugupan yang berlebihan, dan dapat disebabkan oleh hal-hal remeh.

Bagaimanapun, setiap expatriat mengalami hari-hari buruknya sendiri, dan ada saat-saat dimana Anda hanya ingin naik ke pesawat lalu pulang ke tempat asal Anda. Namun hari-hari semacam ini amat sedikit dibanding dengan kesenangan dan penemuan-penemuan menarik yang dapat Anda alami. Begitu Anda terasuk jiwa petualangan, Anda akan menjumpai lebih banyak kesulitan, percaya atau tidak, untuk "pulang" ketimbang yang Anda bayangkan sebelumnya. (Asiatraveltips.com/EGP)

Egidius Patnistik

sumber :kompas.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Maen Game Dapet Uang beneran

Play Strategy Game on MarketGlory

Related Post